PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)

Bandung, 7 Februari 2017
masyuditabir@gmail.com

Pendidikan tinggi adalah sebuah dambaan setiap orang tua dimuka bumi ini baik itu formal ataupun non formal, harapan anaknya pintar dan sukses dalam segala hal sudah pasti menjadi keinginan orang tua. Dengan gencarnya para orang tua mengirim anaknya dilembaga pendidikan yang mahal dan terkenal untuk mendapatkan hasil yang maksimal untuk anaknya kadang cenderung memaksakan anak karena menginginkan anaknya berhasil tanpa menyadari bahwa kemampuan anak itu berbeda beda, ada yang cepat tanggap dalam menerima ilmu/informasi ada yang lambat hal ini jarang terpikirkan dan jarang diperhatikan pada orang tua pada umumnya.
Untuk menunjang hal tersebut para orang tua memasukan anaknya atau putra putri mereka ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang sekarang sudah menjadi tren dimana mana. Yang dulunya masuk sekolah itu langsung masuk Sekolah Dasar (SD) terus muncul lah Taman Kanak Kanak (TK) dan yang terbaru adalah PAUD. Pendidikan seperti ini sebenarnya lebih banyak ke arah kelompok bermain (Play Group) semacam sosialisasi lingkungan ke arah formal dimana apabilan anak anak maju ke jenjang berikutnya seperti TK atau langsung SD mereka dalam penyesuaiannya tidak kaku karena sudah terbiasa.
Untuk melatih anak untuk meningkatkan kemampuannya itu bagus dalam jenjang ini, tapi harus diperhatikan pula jangan pernah memaksakan kehendak sebagai orang tua kepada anak apabila anak tidak mau masuk ke lemabaga pendidikan ini (PAUD), karena PAUD itu sendiri atau Play Group sebenarnya bisa dilakukan dalam lingkungan keluarga atau Pendidikan Non Formal seperti mengajak bermain sesuai kesukaan anak dengan memasukan unsur pembelajaran tanpa anak itu sendiri menyadarinya, hal tersebut lebih cepat diserap anak, karena anak itu sendiri merasa santai/enjoy ataupun menikmati kegiatan tersebut.
Unsur yang bisa dimasukan para orang tua dalam kegiatan PAUD atau Play Group di lingkup pendidikan Non Formal keluarga adalah : 1. Bermain sambil belajar (80% - 20%), seperti bermain congklak dimana anak diajak bermain bersama orang tuanya memasukan biji kerang atau kelereng ke lubang congklak sambil berhitung minimal 1 sampai 10 yang bisa dilakukan berulang ulang tanpa anak merasa terpaksa karena di pikiran anak hanya bermain semuanya padahal secara tidak langsung anak belajar berhitung, dan lebih cepat menguasai karena semuanya dilakukan dengan senang hati. 2. Belajar mengenal benda baik hidup ataupun mati (70% - 30%), orang tua bisa melakukannya sambil pergi berwisata dimana banyak hal/benda yang ditemui yang bisa diajarkan langsung kepada anak seperti nama nama hewan dan benda yang berada dilingkungan sekitarnya bisa disebutkan agar anak bisa mengenali dan mengingatnya. 3. Belajar mengenal angka dan huruf (80% - 20%), hal ini bisa diajarkan sebagusnya di luar rumah agar suasananya lebih bebas agar anak anak dalam proses PAUD lebih menganggap sebagai permainan dianggap sebagai hal yang menyenangkan untuk mereka, di situlah peran orang tuanya untuk mengajarkan mengenal angka dan huruf kepada anaknya melalui media papan tulis dimana angka dan hurupnya dilatar belakangi gambar hewan atau benda lainnya di situlah unsur pembelajaran dimasukan dan anak akan lebih cepat menguasai dan mengingat terus sampai kapanpun.

Kata kata muitara : "Hidup ini memang tantangan tapi rangkulah tantangan tersebut seperti kita merangkul keluarga kita dengan penuh kasih sayang sehingga tantangan itu terasa seperti romantika hidup yang selayaknya untuk dinikmati"

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)"

Post a Comment